1. Riwayat Hidup.
Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin At-Tusi Al-Ghazali. Lahir di desa Gazalah, di Tus, sebuah kota di Persia pada tahun 450 H atau 1058 M dari keluarga yang religius, Ayahnya, Muhammad, diluar kesibukannya sebagai seorang pemintal dan pedagang kain wol, selalu meluangkan waktunya untuk menghadiri majelis-majelis pengajian yang diselenggarakan ulama. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Abu Al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Tusi Al-Ghazali yang dikenal dengan julukan majduddin (wafat pada tahun 520 H). Keduanya kemudian menjadi ulama besar, dengan kecenderungan yang berbeda. Majduddin lebih cenderung pada kegiatan da’wah dibanding Al-Ghazali yang menjadi penulis dan pemikir.
Pendidikan Al-Ghazali di masa kanak-kanak berlangsung di kampung asalnya. Setelah ayahnya wafat, ia dan saudaranya dididik oleh seorang sufi yang mendapat wasiat dari ayahnya untuk mengasuh mereka, yaitu Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani At-Tusi, seorang ahli tasawuf dan fiqih dari Tus. Pada awalnya, sangsufi mendidik mereka secara langsung. Namun, setelah harta mereka habis, sementara sufi itu seorang yang miskin, mereka berdua akhirnya dimasukkan ke sebuah madrasah di Tus. Nama madrasah ini tidak pernah disebut oleh Al-Ghazali maupun penulis biografinya. Madrasah ini memberi para pelajarnya pakaian dan makanan secara cuma-cuma. Santunan dan fasilitas yang disediakan madrasah itu sempat menjadi tujuan Al-Ghazali dalam menuntut ilmu. Kemudian sufi itu menyadarkan Al-Ghazali bahwa tujuan menuntut ilmu bukanlah untuk mencari penghidupan, melainkan semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah SWT dan mencapai pengetahuan tentang Allah SWT secara benar. Di madrasah inilah Al-Ghazali mulai belajar fiqih.
Setelah mempelajari dasar-dasar fiqih di kampung halamannya, ia merantau ke Jurjan, sebuah kota di Persia yang terletak diantara kota Tabristan dan Nisabur. Di jurjan, ia memperluas wawasannya tentang fiqih dengan berguru kepada seorang faqih yang bernama Abu Al-Qasim Isma’il bin Mus’idah Al-Isma’ili (Imam Abu Nasr Al-Isma’ili). Setelah sempat pulang ke Tus, Al-Ghazali berangkat lagi ke Nisabur. Di sana ia belajar kepada Imam Abu Al-Ma’ali Al-Juwani dalam ilmu fiqih, ilmu debat, mantik, filsafat, dan ilmu kalam.
Selain itu, Al-Ghazali juga belajar tasawuf kepada dua orang sufi, yaitu Imam Yusuf An-Nassaj dan Imam Abu Ali Al-Fadl bin Muhammad bin Ali Al-Farmazi At-Tusi. Ia juga belajar hadits kepada banyak ulama hadits, seperti Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al-Hafsi Al-Marwazi, Abu Al-Fath Nasr bin Ali bin Ahmad Al-Hakimi At-Tusi, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Al-Khuwari, Muhammad bin Yahya bin Muhammad As-Sujja’i Az-Zauzani, Al-Hafiz Abu Al-Fityan Umar bin Abi Al-Hasan Ar-Ru’asi Ad-Dahistani, dan Nasr bin Ibrahim Al-Maqsidi.
Setelah gurunya, Al-Juwaini, meninggal dunia, Al-Ghazali mengunjungi tempat kediaman seorang wazir (menteri) pada masa pemerintahan sultan Adud Ad-Daulah Alp Arsalan (lahir pada tahun 455 H atau 1063 M dan wafat pada tahun 465 H atau 1072 M) dan Jalal Ad-Daulah Malik Syah (lahir pada tahun 465 H atau 1072 M dan wafat pada tahun 485 H atau 1092 M) dari dinasti Salajikah di Al-Askar, sebuah kota di Persia. Kediaman wazir ini merupakan sebuah majelis pengajian, tempat ulama bertukar pikiran. Wazir tersebut kagum terhadap pandangan-pandangan Al-Ghazali sehingga ia diminta untuk mengajar di Madrasah Nizamiyyah Baghdad yang didirikan oleh wazir sendiri. Al-Ghazali mengajar di Baghdad pada tahun 484 H.
Empat tahun kemudian, ia meninggalkan Baghdad untuk menunaikan ibadah haji. Kepergiannya ini, konon dikarenakan Al-Ghazali telah mulai terserang penyakit syak (keraguan). Ia syak pada pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera, karena panca indera terkadang berdusta. Ia juga syak terhadap pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran akal, karena dalam pemikiran itu akal mempergunakan pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera sebagai bahan. Dan bahan itu disyaki kebenarannya. Penyakit syak di dalam hati ini menimbulkan penyakit jasmani dalam dirinya. Al-Ghazali tidak bisa berbicara lagi sebagaimana semula, karenanya ia tidak sanggup lagi memberikan kuliah-kuliah. Kemudian ia pergi ke Damaskus, lalu beri’tikaf di Masjid Umawi. Disini ia hidup sebagai seorang zahid yang mendalami suasana batin, meninggalkan kemewahan, dan menyucikan diri dari dosa.
Jalan sufi yang ditempuh Al-Ghazali diakhir masa hidupnya menghilangkan perasaan syak yang sebelumnya mengganggu jiwanya. Keyakinan yang dulu hilang, kini ia peroleh kembali. Tingkat ma’rifat yang terdapat dalam tasawuf, menurutnya, adalah jalan yang membawa kepada pengetahuan yang kebenarannya dapat diyakini. Setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad untuk meneruskan kegiatan mengajarnya. Selanjutnya, ia berangkat ke Nisabur dan ke kampung halamannya, Tus. Ia wafat di kampung halamannya pada tahun 505 H atau 1111 M.
2. Karya-karya Imam Al-Ghazali.
Imam Al-Ghazali berbeda dengan para sufi lainnya. Meskipun ia sufi, ia juga seorang filosof ulung, teolog, dan seorang ahli hukum terkemuka yang dimiliki umat Islam. Tak heran jika di dunia Islam ia diberi gelar Hujjatul Islam. Gelar tersebut pantas diberikan kepada Imam Al-Ghazali, karena ia banyak menuliskan kitab-kitab dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi warisan umat Islam sampai akhir zaman. Karya-karyanya antara lain : 1. Tentang Akhlaq dan Tasawuf : Ihya ‘ulum Ad-Din, Minhajul ‘Abidin, Kimiya As-Sa’adah, Al-Munqiz min Ad-Dalal, Akhlaq Al-Abrar wa An-Najah min Al-Asyrar, Misykah Al-Anwar, Asrar ‘Ilm Ad-Din, Ad-Durar Al-Fakhriyah fi Kasyf Ulum Al-Akhirah, dan Al-Qurbah ila Allah Azza wa Jalla; 2. Tentang fiqih : Al-Basit, Al-Wasit, Al-Wajiz, Az-Zari’ah ila Makarim Asy-Syari’ah, dan At-Tibr Al-Masbuk fi Nasihah Al-Muluk; 3. Tentang Ushul Fiqih : Al-Mankhul min Ta’liqat Al-Ushul, Syifa Al-Ghalil fi Bayan Asy-Syabah wa Al-Mukhil wa Masalik At-Ta’lil, Tahzib Al-Ushul, dan Al-Mustafa min ‘Ilm Al-Ushul; 4. Tentang Filsafat : Maqasid Al-Falasifah, Tahafut Al-Falasifah, dan Mizan Al-Amal; 5. Tentang Ilmu Kalam : Al-Iqtisad fi Al-I’tiqad, Faisal At-Tafriqah bain Al-Islam wa Az-Zandaqah, dan Al-Qistas Al-Mustaqim; 6. Tentang Ilmu Al-Qur’an : Jawahir Al-Qur’an, dan Yaqut At-Ta’wil fi Tafsir At-Tanzil.
Rabu, 12 Desember 2007
Abu Ayyub Al-Anshori
Di makamkan di bawah batu konstantinopel
Sahabat Nabi yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib, dari Bani Najjar. Julukannya adalah Abu Ayyub Al-Anshari.
Allah mengharumkan namanya di timur dan di barat dan mengangkat derajatnya diatas makhluk-makhluk Nya yang lain ketika Dia memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara bagi Nabi yang mulia Nabi Muhammad yang baru hijrah ke Madinah. Rasulullah tiba di Madinah tepat pada malam hari tanggal 12 Rabi’ul Awwal (menurut al-mas’udi).
Ketika Nabi tiba di Madinah dengan “dielu-elukan” oleh seluruh penduduk. Semua mata memandanginya dengan penuh kerinduan seolah memandang sang kekasih hati. mereka semua membuka pintu-pintu rumah, berharap Nabi yang mulia itu sudi menginap di tempat mereka.
Kemudian Beliau menunggangi ontanya keluar. Para pemimpin kota Yatsrib berusaha agar beliau mau berhenti, masing-masing ingin mendapat kehormatan dijadikan tempat menginap oleh Nabi. Mereka menghalang-halangi jalannya onta dan memohon “Tinggallah dirumah saya beserta seluruh perlengkapan Anda, wahai Rasulullah. Kami akan menjamin keamanan Anda”.
Rasulullah berkata “Biarkanlah onta ini berjalan sekehendaknya karena dia diperintah oleh Allah”.
Onta tersebut terus berjalan diikuti tatapan para penyambut. Bila dia melewati satu rumah, maka pemiliknya merasa pupus harapan untuk bisa menjadi tuan rumah bagi Rasulullah. Sebaliknya, pemilik-pemilik rumah berikutnya menanti dengan harap-harap cemas akankah rumah mereka dipilih oleh Nabi?.
Namun onta tersebut terus berjalan, dan pada akhrirnya sampailah ia disebuah tanah kosong tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim dari Bani Najjar didepan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, di situlah ia berhenti dan duduk. Tapi Rasulullah tidak segera turun, tak lama kemudian si onta bangkit dan berjalan kembali, Rasulullah melepaskan tali kendalinya. Belum jauh berjalan, dia berbalik dan duduk ditempat semula. Kemudian Rasulullah bersabda “Disinilah tempatnya, insya Allah”.
Tak terkirakan kebahagiaan Abu Ayyub. Dia segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang bawaan Beliau.
Rasulullah ternyata tinggal di sebuah desa yang berjarak dua mil dari Madinah yaitu desa Quba’. Di sini beliau membangun sebuah masjid Quba’ yang disebuat Allah sebagai “Masjid yang di dirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama”.
Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Dia bermaksud mengosongkan barang-barangnya di lantai atas agar bisa di tempati oleh Rasulullah. Namun Rasulullah memilih tinggal di lantai bawah sehingga Abu Ayyub menuruti saja kehendak beliau.
Abu bakar bin Abi Syaibah, Ibnu Ishaq dan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari beberapa sanad dengan lafadz yang hampir bersamaan, bahwa Abu Ayyub berkata: ketika Rasulullah tinggal di rumahku, Beliau menempati bagian bawah rumahku, sementara aku dan Ummu Ayyub di bagian atas. Kemudian aku katakan kepadanya, “Wahai Nabi Allah, aku tidak suka dan merasa berat engkau berada di bawahku. Naiklah engkau keatas dan biarlah kami turun ke bawah”. Tetapi Nabi menjawab, “Wahai Abu Ayyub, biarkan kami tinggal di bagian bawah, agar orang yang bersama kami dan orang yang ingin berkunjung kepada kami tidak perlu bersusah payah”.
Ketika malam, Rasulullah beranjak keperaduannya, sementara Abu Ayyub dan istrinya naik ke lantai atas. Setelah menutup pintu, berkatalah Abu Ayyub “Istriku apa yang kita lakukan ini? Rasulullah berada di bawah dan kita di atasnya? Patutkah hal seperti ini? Kita berada diantara Nabi dan wahyu yang akan turun kepada beliau.
Semalaman kedua suami istri ini gelisah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka menyingkir dari tengah-tengah ruangan yang diperkirakan Rasulullah tidur di bawahnya. Bila hendak pergi ke sisi ruangan yang lain, mereka berjalan menempel dinding karena tak ingin berjalan di atas Rasulullah.
Pagi harinya Abu Ayyub berterus terang kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, demi Allah semalam suntuk saya tidak dapat memejamkan mata, demikian pula dengan Ummu Ayyub”. Nabi bertanya “Apakah sebabnya wahai Abu Ayyub?”.
“Saya teringat betapa saya berada diatas sedangkan Anda dibawah. Bila saya bergerak, maka debu-debu akan rontok dari atas dan menggangu anda. Di samping itu saya berada diantara wahyu dan anda”. Rasulullah menenangkan “Tenanglah wahai Abu Ayyub, sesungguhnya aku merasa lebih enak berada di bawah, karena nantinya akan banyak tamu berdatangan”.
Selanjutnya Abu Ayyub menceritakan: Demikianlah Rasulullah tinggal di bagian bawah sementara kami tinggal di bagian atas. Pada suatu malam yang dingin, kendi tempat air minum Abu Ayyub pecah dan airnya membasahi lantai maka segeralah ia dan ummu ayyub membersihkan air itu dengan selimut satu-satunya itu, agar air itu tidak menggangu beliau.
Keesokan harinya aku turun kepadanya seraya berkata “Demi ayah bundaku, wahai Rasulullah, benar-benar saya tidak bisa tinggal di atas anda”. Ku ceritakan soal kendi yang pecah itu. Beliau akhirnya menerima alasanku dan bersedia pindah keatas.
Pada kesempatan yang lain Abu Ayyub menceritakan: Kami biasa membuatkan makan malam untuk Nabi. Setelah siap makanan itu, kami kirimkan kepada beliau. Jika sisa makanan itu di kembalikan kepada kami, maka aku dan ummu ayyub berebut bekas tangan beliau dan kami makan bersama sisa makanan itu untuk mendapatkan berkat (tabarruk) beliau.
Pada suatu malam kami mengantarkan makan malam yang kami campuri dengan bawang merah dan bawang putih kepada beliau, tetapi ketika makanan itu di kembalikan oleh Rasulullah kepada kami, aku tidak melihat adanya bekas tangan yang menyentuhnya. Kemudian dengan rasa cemas aku datang menanyakan, “Wahai Rasulullah, engkau kembalikan makan malammu, tetapi aku tidak melihat adanya bekas tanganmu. Padahal setiap kali engkau mengembalikan sisa makananmu, aku dan ummu ayyub selalu berebut pada bekas tanganmu karena ingin mendapat berkat”. Nabi menjawab “Aku temui makanan itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat (kepada Allah). Tetapi untuk kalian makan sajalah”. Abu Ayyub berkata : Lalu kami memakannya. Setelah itu kami tidak pernah lagi menaruh bawang pada makanan beliau.
Nabi tinggal di rumah Abu Ayyub selama sekitar tujuh bulan, yaitu sampai masjid di atas tanah yang diduduki onta beliau selesai dibangun. Selanjutnya Beliau dan para istrinya tinggal di bilik-bilik di sebelah masjid. Beliau menjadi tetangga Abu Ayyub, tetangga yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan dan keutamaan.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah dengan cinta yang menyita segenap akal dan hatinya. Rasulullah mencintai Abu Ayyub dengan cinta yang menghapuskan dinding pemisah antara Abu Ayyub dan dirinya karena Rasulullah menganggap rumah Abu Ayyub seperti rumahnya sendiri.
Berkisah Ibnu Abbas:
Pada suatu siang yang terik, Abu Bakar keluar dari rumahnya menuju ke masjid. Umar melihat lalu menyapanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang menyebabkan anda keluar rumah pada siang seterik ini?”. Jawab Abu Bakar, “Aku tidak akan keluar rumah kalau tidak di dorong oleh rasa lapar yang menggigit”. Umar menimpali. “Aku pun demi Allah tidak keluar kecuali karena sebab yang sama”.
Saat mereka berdua bercakap-cakap. Rasulullah datang seraya bertanya. “Apa yang menyebabkan kalian keluar rumah pada saat sepanas ini?”. Keduanya menjawab “Demi Allah, perut yang perih karena laparlah yang memaksa kami keluar”. Kata Nabi. “Demi jiwaku di tangan Nya, tidak ada pula yang mengeluarkan diriku dari rumah kecuali itu juga. Mari ikutlah aku”.
Mereka bertiga berjalan sampai di depan pintu rumah Abu Ayyub. Setiap hari memang Abu Ayyub biasa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Bila pada waktu-waktu makan beliau tidak juga datang, baru Abu Ayyub memperbolehkan keluarganya memakannya.
Ummu Ayyub membuka pintu lalu mengucapkan salam. ‘Selamat datang wahai Nabi dan saudara-saudara”. Rasulullah bertanya, “Dimana Abu Ayyub?”. Saat itu Abu Ayyub sedang mengurus pohon kurmanya di samping rumah. Mendengar suara Nabi, dia segera menyongsong. “Selamat datang, Wahai Rasulullah dan saudara-saudara”. Lanjutnya, “Wahai Nabiyullah, bukan kebiasaan Anda datang pada waktu-waktu separti ini”. Nabi membenarkan. “Engkau benar”.
Abu Ayyub kemudian memotong setandan kurma yang berisi tamar, rutab, dan busr (rutab adalah kurma yang sudah masak, sedangkan busr adalah yang masih separuh masak). Rasulullah berkata, “Janganlah engkau memotong tandan yang begini. Sebaiknya ambillah tandan yang sudah sempurna”. Kata Abu Ayyub, “Wahai Rasulullah, saya ingin Anda makan tamar-nya, rutab-nya, dan busr-nya juga. Saya pun akan menyembelih kambing untuk Anda”. Pesan Rasulullah, “Janganlah engkau menyembelih kambing yang sudah mengeluarkan susu”. Abu Ayyub memilih seekor anak kambing yang berumur setahun. Setelah menyembelihnya, ia berkata kepada istrinya. “Buatlah adonan untuk roti, engkau lebih mengerti cara membuat roti. Untuk kambingnya, masaklah yang separuh dan bakarlah yang separuh lainnya”. Setelah masak, roti, kuah, dan kambing segera dihidangkan. Rasulullah mengambil sepotong daging dan menaruhnya di dalam roti seraya berkata, “Wahai Abu Ayyub, tolong antar roti dan daging ini ke rumah Fathimah. Dia juga sudah beberapa har ini tidak makan sesuatu”.
Setelah mereka semua kenyang, Nabi berkata. “Roti, daging, tamar, rutab, dan busr”. Kedua mata beliau berlinangan ketika melanjutkan, “Demi jiwaku di tanganNya, inilah yang disebut nikmat, yang akan kalian pertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Bila kalian menghadapi hidangan seperti ini dan akan menyantapnya, bacalah basmalah dan bila sudah kenyang ucapkan Al-Hamdulillahilladzi huwa asba’anaa wa an’ama ‘alaina fa afdhala (Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan sampai kenyang dan memberi karunia yang sebaik-baiknya)”.
Rasulullah lalu bangkit dan berpesan kapada Abu Ayyub. “Besok datanglah ke tempatku”. Sudah menjadi tabiat luhur Rasulullah bahwa tak seorang pun berbuat baik kepada beliau kecuali segera di balas dengan kebaikan yang lain. Abu Ayyub segera berkata “Saya akan datang besok ya Rasulullah”.
Keesokan harinya pergilah Abu Ayyub ke tempat Rasulullah. Beliau ternyata menghadiahinya seorang pembantu rumah tangga, seraya berpesan “Perlakukanlah anak ini dengan baik di rumahmu Abu Ayyub. Kami tidak pernah mendapati pada dirinya selain sesuatu yang baik selama di rumah ini”.
Abu Ayyub pulang bersama anak belia itu. Ummu Ayyub keheranan melihatnya, maka ia bertanya. “Untuk siapa anak ini, Abu Ayyub?”. Jawab Abu Ayyub “Untuk kita. Hadiah dari Rasulullah”. “Sebuah hadiah yang paling berharga”, komentar Ummu Ayyub. Abu Ayyub melanjutkan. “Beliau berpesan agar kita memperlakukan anak ini dengan sebaik-baiknya”.
Ummu Ayyub berpikir-pikir, “Kebaikan apa yang bisa kita lakukan terhadapnya untuk melaksanakan pesan Rasulullah itu”. Kedua suami istri itu terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Abu Ayyub berkata, “Demi Allah aku tak mungkin melaksanakan pesan itu lebih baik dari memerdekakan anak ini”. “Engkau telah mendapatkan petunjuk kebenaran! Engkau mendapatkan taufik!”. Ummu Ayyub kegirangan. Anak kecil itu pun dimerdekakan oleh mereka.
Rangkaian kisah di atas adalah mengenai kehidupan Abu Ayyub dalam suasana damai. Bila anda sempat mengetahui sebagian hidupnya dalam peperangan, niscaya anda akan menjumpai hal-hal yang menakjubkan.
Sepanjang hidupnya Abu Ayyub adalah seorang mujahid yang aktif. Perang terakhir yang diikutinya adalah penaklukkan konstantinopel. Muawiyah saat itu mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh putranya sendiri, Yazid.
Pada masa itu Abu Ayyub adalah seorang lanjut usia yang berumur 80-an, sehingga Abu Ayyub tidak dapat lama bertempur. Dia menderita sakit yang mengharuskannya istirahat. Yazid sebagai panglima menjenguk dan bertanya, “Adakah Anda memerlikan sesuatu, Abu Ayyub?”. Dia menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada seluruh kaum muslimin….”.
Abu Ayyub juga berpesan agar pasukan terus maju ke daerah musuh dan membawanya bersama mereka. Bila nanti dia wafat di medan perang, hendaknya jenazahnya dibawa dan dimakamkan di bawah dinding konstantinopel.
Tak lama setelah itu, Abu Ayyub pun wafat. Pasukan muslimin melaksanakan amanat sahabat Rasulullah ini. Mereka terus bertempur dengan gagah berani. Ketika mencapai dinding batu konstantinopel mereka memakamkan jenazah Abu Ayyub dibawahnya.
Sahabat Nabi yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib, dari Bani Najjar. Julukannya adalah Abu Ayyub Al-Anshari.
Allah mengharumkan namanya di timur dan di barat dan mengangkat derajatnya diatas makhluk-makhluk Nya yang lain ketika Dia memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara bagi Nabi yang mulia Nabi Muhammad yang baru hijrah ke Madinah. Rasulullah tiba di Madinah tepat pada malam hari tanggal 12 Rabi’ul Awwal (menurut al-mas’udi).
Ketika Nabi tiba di Madinah dengan “dielu-elukan” oleh seluruh penduduk. Semua mata memandanginya dengan penuh kerinduan seolah memandang sang kekasih hati. mereka semua membuka pintu-pintu rumah, berharap Nabi yang mulia itu sudi menginap di tempat mereka.
Kemudian Beliau menunggangi ontanya keluar. Para pemimpin kota Yatsrib berusaha agar beliau mau berhenti, masing-masing ingin mendapat kehormatan dijadikan tempat menginap oleh Nabi. Mereka menghalang-halangi jalannya onta dan memohon “Tinggallah dirumah saya beserta seluruh perlengkapan Anda, wahai Rasulullah. Kami akan menjamin keamanan Anda”.
Rasulullah berkata “Biarkanlah onta ini berjalan sekehendaknya karena dia diperintah oleh Allah”.
Onta tersebut terus berjalan diikuti tatapan para penyambut. Bila dia melewati satu rumah, maka pemiliknya merasa pupus harapan untuk bisa menjadi tuan rumah bagi Rasulullah. Sebaliknya, pemilik-pemilik rumah berikutnya menanti dengan harap-harap cemas akankah rumah mereka dipilih oleh Nabi?.
Namun onta tersebut terus berjalan, dan pada akhrirnya sampailah ia disebuah tanah kosong tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim dari Bani Najjar didepan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, di situlah ia berhenti dan duduk. Tapi Rasulullah tidak segera turun, tak lama kemudian si onta bangkit dan berjalan kembali, Rasulullah melepaskan tali kendalinya. Belum jauh berjalan, dia berbalik dan duduk ditempat semula. Kemudian Rasulullah bersabda “Disinilah tempatnya, insya Allah”.
Tak terkirakan kebahagiaan Abu Ayyub. Dia segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang bawaan Beliau.
Rasulullah ternyata tinggal di sebuah desa yang berjarak dua mil dari Madinah yaitu desa Quba’. Di sini beliau membangun sebuah masjid Quba’ yang disebuat Allah sebagai “Masjid yang di dirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama”.
Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Dia bermaksud mengosongkan barang-barangnya di lantai atas agar bisa di tempati oleh Rasulullah. Namun Rasulullah memilih tinggal di lantai bawah sehingga Abu Ayyub menuruti saja kehendak beliau.
Abu bakar bin Abi Syaibah, Ibnu Ishaq dan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari beberapa sanad dengan lafadz yang hampir bersamaan, bahwa Abu Ayyub berkata: ketika Rasulullah tinggal di rumahku, Beliau menempati bagian bawah rumahku, sementara aku dan Ummu Ayyub di bagian atas. Kemudian aku katakan kepadanya, “Wahai Nabi Allah, aku tidak suka dan merasa berat engkau berada di bawahku. Naiklah engkau keatas dan biarlah kami turun ke bawah”. Tetapi Nabi menjawab, “Wahai Abu Ayyub, biarkan kami tinggal di bagian bawah, agar orang yang bersama kami dan orang yang ingin berkunjung kepada kami tidak perlu bersusah payah”.
Ketika malam, Rasulullah beranjak keperaduannya, sementara Abu Ayyub dan istrinya naik ke lantai atas. Setelah menutup pintu, berkatalah Abu Ayyub “Istriku apa yang kita lakukan ini? Rasulullah berada di bawah dan kita di atasnya? Patutkah hal seperti ini? Kita berada diantara Nabi dan wahyu yang akan turun kepada beliau.
Semalaman kedua suami istri ini gelisah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka menyingkir dari tengah-tengah ruangan yang diperkirakan Rasulullah tidur di bawahnya. Bila hendak pergi ke sisi ruangan yang lain, mereka berjalan menempel dinding karena tak ingin berjalan di atas Rasulullah.
Pagi harinya Abu Ayyub berterus terang kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, demi Allah semalam suntuk saya tidak dapat memejamkan mata, demikian pula dengan Ummu Ayyub”. Nabi bertanya “Apakah sebabnya wahai Abu Ayyub?”.
“Saya teringat betapa saya berada diatas sedangkan Anda dibawah. Bila saya bergerak, maka debu-debu akan rontok dari atas dan menggangu anda. Di samping itu saya berada diantara wahyu dan anda”. Rasulullah menenangkan “Tenanglah wahai Abu Ayyub, sesungguhnya aku merasa lebih enak berada di bawah, karena nantinya akan banyak tamu berdatangan”.
Selanjutnya Abu Ayyub menceritakan: Demikianlah Rasulullah tinggal di bagian bawah sementara kami tinggal di bagian atas. Pada suatu malam yang dingin, kendi tempat air minum Abu Ayyub pecah dan airnya membasahi lantai maka segeralah ia dan ummu ayyub membersihkan air itu dengan selimut satu-satunya itu, agar air itu tidak menggangu beliau.
Keesokan harinya aku turun kepadanya seraya berkata “Demi ayah bundaku, wahai Rasulullah, benar-benar saya tidak bisa tinggal di atas anda”. Ku ceritakan soal kendi yang pecah itu. Beliau akhirnya menerima alasanku dan bersedia pindah keatas.
Pada kesempatan yang lain Abu Ayyub menceritakan: Kami biasa membuatkan makan malam untuk Nabi. Setelah siap makanan itu, kami kirimkan kepada beliau. Jika sisa makanan itu di kembalikan kepada kami, maka aku dan ummu ayyub berebut bekas tangan beliau dan kami makan bersama sisa makanan itu untuk mendapatkan berkat (tabarruk) beliau.
Pada suatu malam kami mengantarkan makan malam yang kami campuri dengan bawang merah dan bawang putih kepada beliau, tetapi ketika makanan itu di kembalikan oleh Rasulullah kepada kami, aku tidak melihat adanya bekas tangan yang menyentuhnya. Kemudian dengan rasa cemas aku datang menanyakan, “Wahai Rasulullah, engkau kembalikan makan malammu, tetapi aku tidak melihat adanya bekas tanganmu. Padahal setiap kali engkau mengembalikan sisa makananmu, aku dan ummu ayyub selalu berebut pada bekas tanganmu karena ingin mendapat berkat”. Nabi menjawab “Aku temui makanan itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat (kepada Allah). Tetapi untuk kalian makan sajalah”. Abu Ayyub berkata : Lalu kami memakannya. Setelah itu kami tidak pernah lagi menaruh bawang pada makanan beliau.
Nabi tinggal di rumah Abu Ayyub selama sekitar tujuh bulan, yaitu sampai masjid di atas tanah yang diduduki onta beliau selesai dibangun. Selanjutnya Beliau dan para istrinya tinggal di bilik-bilik di sebelah masjid. Beliau menjadi tetangga Abu Ayyub, tetangga yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan dan keutamaan.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah dengan cinta yang menyita segenap akal dan hatinya. Rasulullah mencintai Abu Ayyub dengan cinta yang menghapuskan dinding pemisah antara Abu Ayyub dan dirinya karena Rasulullah menganggap rumah Abu Ayyub seperti rumahnya sendiri.
Berkisah Ibnu Abbas:
Pada suatu siang yang terik, Abu Bakar keluar dari rumahnya menuju ke masjid. Umar melihat lalu menyapanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang menyebabkan anda keluar rumah pada siang seterik ini?”. Jawab Abu Bakar, “Aku tidak akan keluar rumah kalau tidak di dorong oleh rasa lapar yang menggigit”. Umar menimpali. “Aku pun demi Allah tidak keluar kecuali karena sebab yang sama”.
Saat mereka berdua bercakap-cakap. Rasulullah datang seraya bertanya. “Apa yang menyebabkan kalian keluar rumah pada saat sepanas ini?”. Keduanya menjawab “Demi Allah, perut yang perih karena laparlah yang memaksa kami keluar”. Kata Nabi. “Demi jiwaku di tangan Nya, tidak ada pula yang mengeluarkan diriku dari rumah kecuali itu juga. Mari ikutlah aku”.
Mereka bertiga berjalan sampai di depan pintu rumah Abu Ayyub. Setiap hari memang Abu Ayyub biasa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Bila pada waktu-waktu makan beliau tidak juga datang, baru Abu Ayyub memperbolehkan keluarganya memakannya.
Ummu Ayyub membuka pintu lalu mengucapkan salam. ‘Selamat datang wahai Nabi dan saudara-saudara”. Rasulullah bertanya, “Dimana Abu Ayyub?”. Saat itu Abu Ayyub sedang mengurus pohon kurmanya di samping rumah. Mendengar suara Nabi, dia segera menyongsong. “Selamat datang, Wahai Rasulullah dan saudara-saudara”. Lanjutnya, “Wahai Nabiyullah, bukan kebiasaan Anda datang pada waktu-waktu separti ini”. Nabi membenarkan. “Engkau benar”.
Abu Ayyub kemudian memotong setandan kurma yang berisi tamar, rutab, dan busr (rutab adalah kurma yang sudah masak, sedangkan busr adalah yang masih separuh masak). Rasulullah berkata, “Janganlah engkau memotong tandan yang begini. Sebaiknya ambillah tandan yang sudah sempurna”. Kata Abu Ayyub, “Wahai Rasulullah, saya ingin Anda makan tamar-nya, rutab-nya, dan busr-nya juga. Saya pun akan menyembelih kambing untuk Anda”. Pesan Rasulullah, “Janganlah engkau menyembelih kambing yang sudah mengeluarkan susu”. Abu Ayyub memilih seekor anak kambing yang berumur setahun. Setelah menyembelihnya, ia berkata kepada istrinya. “Buatlah adonan untuk roti, engkau lebih mengerti cara membuat roti. Untuk kambingnya, masaklah yang separuh dan bakarlah yang separuh lainnya”. Setelah masak, roti, kuah, dan kambing segera dihidangkan. Rasulullah mengambil sepotong daging dan menaruhnya di dalam roti seraya berkata, “Wahai Abu Ayyub, tolong antar roti dan daging ini ke rumah Fathimah. Dia juga sudah beberapa har ini tidak makan sesuatu”.
Setelah mereka semua kenyang, Nabi berkata. “Roti, daging, tamar, rutab, dan busr”. Kedua mata beliau berlinangan ketika melanjutkan, “Demi jiwaku di tanganNya, inilah yang disebut nikmat, yang akan kalian pertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Bila kalian menghadapi hidangan seperti ini dan akan menyantapnya, bacalah basmalah dan bila sudah kenyang ucapkan Al-Hamdulillahilladzi huwa asba’anaa wa an’ama ‘alaina fa afdhala (Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan sampai kenyang dan memberi karunia yang sebaik-baiknya)”.
Rasulullah lalu bangkit dan berpesan kapada Abu Ayyub. “Besok datanglah ke tempatku”. Sudah menjadi tabiat luhur Rasulullah bahwa tak seorang pun berbuat baik kepada beliau kecuali segera di balas dengan kebaikan yang lain. Abu Ayyub segera berkata “Saya akan datang besok ya Rasulullah”.
Keesokan harinya pergilah Abu Ayyub ke tempat Rasulullah. Beliau ternyata menghadiahinya seorang pembantu rumah tangga, seraya berpesan “Perlakukanlah anak ini dengan baik di rumahmu Abu Ayyub. Kami tidak pernah mendapati pada dirinya selain sesuatu yang baik selama di rumah ini”.
Abu Ayyub pulang bersama anak belia itu. Ummu Ayyub keheranan melihatnya, maka ia bertanya. “Untuk siapa anak ini, Abu Ayyub?”. Jawab Abu Ayyub “Untuk kita. Hadiah dari Rasulullah”. “Sebuah hadiah yang paling berharga”, komentar Ummu Ayyub. Abu Ayyub melanjutkan. “Beliau berpesan agar kita memperlakukan anak ini dengan sebaik-baiknya”.
Ummu Ayyub berpikir-pikir, “Kebaikan apa yang bisa kita lakukan terhadapnya untuk melaksanakan pesan Rasulullah itu”. Kedua suami istri itu terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Abu Ayyub berkata, “Demi Allah aku tak mungkin melaksanakan pesan itu lebih baik dari memerdekakan anak ini”. “Engkau telah mendapatkan petunjuk kebenaran! Engkau mendapatkan taufik!”. Ummu Ayyub kegirangan. Anak kecil itu pun dimerdekakan oleh mereka.
Rangkaian kisah di atas adalah mengenai kehidupan Abu Ayyub dalam suasana damai. Bila anda sempat mengetahui sebagian hidupnya dalam peperangan, niscaya anda akan menjumpai hal-hal yang menakjubkan.
Sepanjang hidupnya Abu Ayyub adalah seorang mujahid yang aktif. Perang terakhir yang diikutinya adalah penaklukkan konstantinopel. Muawiyah saat itu mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh putranya sendiri, Yazid.
Pada masa itu Abu Ayyub adalah seorang lanjut usia yang berumur 80-an, sehingga Abu Ayyub tidak dapat lama bertempur. Dia menderita sakit yang mengharuskannya istirahat. Yazid sebagai panglima menjenguk dan bertanya, “Adakah Anda memerlikan sesuatu, Abu Ayyub?”. Dia menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada seluruh kaum muslimin….”.
Abu Ayyub juga berpesan agar pasukan terus maju ke daerah musuh dan membawanya bersama mereka. Bila nanti dia wafat di medan perang, hendaknya jenazahnya dibawa dan dimakamkan di bawah dinding konstantinopel.
Tak lama setelah itu, Abu Ayyub pun wafat. Pasukan muslimin melaksanakan amanat sahabat Rasulullah ini. Mereka terus bertempur dengan gagah berani. Ketika mencapai dinding batu konstantinopel mereka memakamkan jenazah Abu Ayyub dibawahnya.
Biografi Aa Gym
A. Keluarga Dan Masa Mudanya.
Bermula dari bandung, beliau lahir pada hari senin tanggal 29 Januari 1962, beliau adalah putera tertua dari empat bersaudara pasangan letnan kolonel (letkol) H. Engkus Kuswara dan Ny. Hj. Yeti Rohayati. Saudara kandung lainnya adalah: Abdurrahman Yuri, Agung Gunmartin, dan Fathimah Genstreed.
Aa Gym lahir dari keluarga yang dikenal religius dan disiplin, meskipun religius tetapi pendidikan agama yang ditanamkan oleh orang tuanya sebenarnya sama dengan keluarga lain pada umumnya, akan tetapi disiplin ketat namun demokratis telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola hidupnya sejak kecil, karena ayahnya adalah seorang perwira angkatan darat.
Sebgai putera seorang tentara, dia bahkan pernah diamanahkan menjadi komandan resimen mahasiswa (menwa) Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani, Bandung. “Disini kepanduan namanya, disiplin tidak selalu berbentuk militerisasi, kami disini menegakkan disiplin tanpa kekerasan dan kekasaran, tidak ada kekuatan tanpa disipin” ujar Aa seperti dikutip harian Kompas (22/06/2000). Dan ternyata kekuatan yang semacam inilah yang justru membuat dirinya dan dua orang adiknya memiliki rasa percaya diri, mampu hidup prihatin, pantang menyerah, da kental dengan rasa kesetiakawanan.
Dimata Aa Gym sosok sang adik (Agung Gunmartin) ternyata sangat berpengaruh. “Saya dapat pelajaran membuka mata hati saya dari adik laki-laki saya yang lumpuh seluruh tubuhnya dalam menghadapi maut” seperti yang dikutip harian Republika (07/05/2000). Dia tidak bisa melupakan saat-saat bersama adiknya yang mengalami kelumpuhan total. “Kalau kuliah saya menggendongnya” ungkapnya mengenang. Pernah suatu ketika Aa Gym menanyakan kepada sang adik “mengapa sudah tidak berdaya masih terus kuliah?” adiknya menjawab “kalau orang lain ibadahnya dengan berjuang, mudah-mudahan keinginan saya untuk terus kuliah bernilai ibadah”. Pelajaran lain yang diperoleh dari sang adik adalah dia tidak pernah mengeluh. Aa Gym masih ingat sewaktu adiknya berkata “Kalau orang lain punya bekal untuk pulang dengan berbuat sesuatu, saya ingin mengumpulkan bekal pulang dengan bersabar”.
Aa Gym mengaku bahwa guru pertamanya adalah adiknya sendiri yang biasa dipanggil A Agung. “Saya bersyukur memperoleh guru yang sosoknya seperti adik saya, guru saya adalah seorang yang lemah fisiknya. Saya diajari bahwa saya haru menghargai dan memperhatikan orang-orang yang lemah disekeliling saya”. Adik Aa Gym yang meninggal dipangkuannya inilah yang membuat perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam diri Aa Gym selanjutnya.
Pada masa mudanya, selain menuntut ilmu dan aktif berorganisasi, Aa Gym juga memiliki kegemaran berdagang. Dialah yang memelopori pembuatan stiker-stiker barsablon yang menunjukkan kekuatan dan keindahan Islam, dia juga pernah berjualan minyak wangi. Seraya tertawa dia bercerita, pernah seharian suntuk ia membersihkan botol-botol minyak gosok PPO untuk diisi minyak wangi hasil racikannya. Seluruh hasil kerja Aa Gym akhirnya membuahkan hasil, dia kemudian dapat membeli 1 unit mobil angkutan kota (angkot) dan kadang-kadang dia yang menjadi supirnya. Jika ada acara wisuda, dia menjual baterai dan film, selain itu juga kadang-kadang dia mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya. “Sebenarnya tujuan saya mengamen ini bukan untuk mencari uang, melainkan ingin berlatih dalam berhadapan dengan orang lain, tapi ya lumayan juga dapat uang” ujarnya.
B. Aa Gym Sebagai Kepala Keluarga
Abdullah Gymnastiar memang lebih populer dipanggil Aa Gym, karena sebagian besar jama’ahnya adalah para pemuda, Aa dalam bahasa sunda berarti kakak. Dari pernikahannya dengan Ninih Muthmainnah Muhsin (cucu dari KH. Moh Tasdiqin –pengasuh pondok pesantren Kalangsari, Cijulang, Ciamis Selatan-) Allah mengaruniakan enam orang anak yakni; Ghaida Tsuraya, Muhammad Ghazi Al-Ghifari, Ghina Raudhatul Jannah, Ghaitsa Zahira Shofa, Ghefira Nur Fathimah dan Ghaza Muhammad Al-Ghazali. Anak-anaknya tersebut dididik dengan penuh disiplin dan religius, tetapi tetap dalam suasana demokratis.
Dalam lingkungan keluarganya, Aa Gym tampaknya berusaha menciptakan suasana yang enak dan egaliter agar istri dan anak-anaknya dapat mengoreksi dirinya secara terbuka dan ikhlas. Seperti yang dituturkan oleh Aa Gym sendiri bahwa seminggu sekali biasanya dia mengumpulkan seluruh anggota keluarganya dan meminta mereka supaya menilai dirinya.
Rupanya bagi Aa Gym sendiri, kebiasaan positif semacam ini harus dipupuk agar dapat membuat dirinya tidak anti kritik. “Saya mencoba membuat diri saya terbuka dan dapat disoroti dari sudut manapun, dan saya juga membutuhkan kritik untuk memperbaiki diri saya” ungkapnya dalam salah satu wawancara.
Aa Gym kemudian berusaha melebarkan proses penilaian diri kepada kalangan santri, orang-orang yang ada di sekelilingnya dan para tetangga yang sehari-hari amat dekat dengannya. Mereka diminta agar terus-menerus mengoreksi dirinya agar supaya tetap berada di jalur yang benar dengan cara apapun. Aa Gym yakin bahwa semakin dirinya dapat dibuat terbuka dan dapat menerima kritikan orang lain tanpa kedongkolan atau kejengkelan, maka kemampuan dirinya akan semakin membaik dari hari ke hari.
Inilah barangkali akar-akar kultural yang memberikan pengaruh fundamental yang cukup signifikan dalam diri Aa Gym, sehingga ia bisa tampil menjadi sosok Kiai masa depan ummat yang bersifat terbuka dan moderat seperti sekarang ini.
C. Pendidikan Aa Gym
Latar belakang pendidikan formal Aa Gym, apalagi bila dikaitkan dengan posisi dirinya sekarang ini tampak cukup unik. Diawali dari SD (Sekolah Dasar) Sukarasa III Bandung, SMP (Sekolah Menengah Pertama) 12 Bandung, SMA (Sekolah Menegah Atas) 5 Bandung, kemudian dilanjutkan dengan kuliah selama satu tahun di Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Unpad, terakhir di Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani (kini Universitas Ahmad Yani -Unjani-) hingga sarjana muda, waktu itu Aa Gym meraih gelar Bachelor of Electrical Engineering. Sebenarnya Aa Gym ingin meneruskan kuliahnya hingga S1, namun waktu itu ia sudah jarang kuliah dan dia tidak enak karena tidak mengikuti prosedur yang semestinya.
Dari prestasi akademik beliau juga masuk peringkat yng lumayan, misalnya waktu SD ia menjadi siswa berprestasi kedua dengan selisih hanya satu angka dari sang juara. Dan sewaktu kuliah pun nilai-nilai akademik Aa Gym tetap terjaga dengan baik sehingga beliau sempat terpilih untuk mewakili kampusnya dalam pemilihan mahasiswa teladan. Dengan kata lain, banyak prestasi yang diperoleh pada waktu remaja dan beranjak sebagai pemuda. Di rumah Aa Gym berjejer rapi piala dan penghargaan lain akibat prestasi Aa Gym tersebut.
Pada tahun 1990, Aa Gym telah diberi amanah oleh jama’ahnya untuk menjadi ketua Yayasan Darut Tauhid, Bandung. Dari sini terlihat bahwa secara formal Aa Gym sebenarnya tidak dibesarkan atau dididik di lingkungan pesantren yang ketat ( terutama pesantren dalam pengertian tradisional). Dalam kaitan ini Aa Gym mengakui ada hal-hal yag tidak biasa dalam perjalanan hidupnya. “Secara syari’at memang sulit diukur bagaimana saya bisa menjadi Aa yang seperti sekarang ini” ujarnya. “Akan tetapi, lanjutnya, saya merasakan sendiri bagaimana Allah seolah-olah telah mempersiapkan diri saya untuk menjadi pejuang di jalan-Nya”. Dengan hati-hati dan tawadhu ia menuturkan pencarian jati dirinya yang diwarnai beberapa peristiwa aneh yang mungkin hanya bisa disimak lewat pendekatan imani.
D. Peristiwa Yang Merubah Jalan Hidup Aa Gym
Bermula dari sebuah pengalaman langka, nyaris sekeluarga (Ibu, Adik dan Dirinya sendiri) pada suatu ketika dalam tidur mereka secara bergiliran bertemu dengan Rasulullah SAW……Sang Ibu bermimpi mendapati Rasulullah sedang mencari-cari seseorang………Pada malam yang lain giliran salah seorang adiknya bermimpi Rasulullah mendatangi rumah mereka. Ketika itu Ayahnya langsung menyuruh Gymnastiar, “Gym, ayolah temani Rasul”. Ketika ditemui ternyata Rasul menyuruh Gymnastiar untuk menyeru orang-orang agar mendirikan shalat. Beberapa malam setelah itu, Aa memimpikan hal yang sama. dalam mimpinya, dia sempat ikut shalat berjama’ah dengan Rasulullah dan keempat sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) pada saat itu Aa Gym berdiri disamping Ali, sementara Rasulullah bertindak sebagai imam. Namun sebelum mimpi ini, terlebih dahulu ia bermimpi didatangi oleh seorang tua yang berjubah putih bersih dan kemudian mencuci mukanya dengan ekor bulu merak yang disaputi madu. Setelah itu, orang tua tersebut berkata, “Insya Allah kelak ia akan menjadi orang yang mulia”. Aa Gym mengaku sulit melupakan mimpi yang ini.
Setelah peristiwa mimpi itu, Aa Gym merasa mengalami guncangan batin, rasa takutnya akan perbuatan dosa membuat dia berperilaku aneh dimata orang lain, misalnya sering Aa Gym menangis ketika ada orang yang menyebut nama Allah, atau hatinya jengkel bila pagi tiba karena sedang asyik bertahajjud. Melihat tingkah lakunya ini, orang tuanya bahkan sempat menyarankan dirinya agar mengunjungi psikiater.
Salah satu pengalaman menarik yang diungkapkannya belakangan ini berkaitan dengan masa-masa menjalani pengalaman spiritual dulu adalah tentang kata “Allah” yang senantiasa tidak pernah lepas dari bibirnya. Kata Aa Gym pula, sang istri dulu tertarik pada dirinya lantaran dia sering mengucapkan “Bismillah” dan “Alhamdulillah”. Dengan kata lain, pada masa-masa itu Aa Gym telah mengalami mabuk kepayang kepada Allah SWT.
Menurut Aa Gym setelah melalui proses pencarian itu, dia bertemu dengan empat orang ulama yang sangat memahami keadaannya. Seorang ulma sepuh yang pertama kali ditemuinya itu mengatakan bahwa dia telah dikaruniai tanazzul oleh Allah, yakni proses secara langsung dibukakan hatinya untuk mengenal-Nya tanpa proses riyadhoh. Sementara KH. Khoer Affandi, seorang ulama tasawwuf terkenal dan juga pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, yang ditemuinya berdasarkan saran ulama sepuh yang pertama kali ditemuinya tersebut mengatakan bahwa dirinya telah dikaruniai ma’rifatullah. Dua ulama lain juga mengatakan hal yang serupa dengan ulama tasawwuf diatas, keduanya adalah Ayah dan Kakek seorang wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Keempat ulama ini bagi Aa Gym, jasanya jelas tidak dapat dilupakan karena telah memberi les kepadanya tanpa harus nyantri bertahun-tahun lamanya.
“Mungkin berkat ilmu tersebut, lidah dan pikiran saya dimudahkan oleh-Nya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat” ujarnya. Memang diakui oleh Aa Gym sendiri, hampir setiap hari dia dapat mengajar sekaligus belajar kepada banyak orang. Dia lebih sering menimba ilmu dari lingkungan sekitarnya, terutama kepada orang-orang yang dijumpainya. Dengan cara seperti itulah materi-materi yang disampaikan oleh Aa Gym bisa sesuai dengan kehidupan dan perkembangan masyarakat pada saat itu.
E. Karya-karya Aa Gym
Diantara tulisan lepas beliau adalah : Getaran Allah di Padang Arafah, Indahnya Hidup Bersama Rasulullah, Nilai hakiki Do’a, Seni Menata Hati Dalam Bergaul, Membangun Kredibilitas : Kiat Praktis, Menjadi Orang Terpercaya, Seni Mengkritik dan Menerima Kritik, Mengatasi Minder, Ma’rifatullah, Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup, Bersikap Ramah Itu Indah dan Mulia, Menuju Keluarga Sakinah, dll.
Bermula dari bandung, beliau lahir pada hari senin tanggal 29 Januari 1962, beliau adalah putera tertua dari empat bersaudara pasangan letnan kolonel (letkol) H. Engkus Kuswara dan Ny. Hj. Yeti Rohayati. Saudara kandung lainnya adalah: Abdurrahman Yuri, Agung Gunmartin, dan Fathimah Genstreed.
Aa Gym lahir dari keluarga yang dikenal religius dan disiplin, meskipun religius tetapi pendidikan agama yang ditanamkan oleh orang tuanya sebenarnya sama dengan keluarga lain pada umumnya, akan tetapi disiplin ketat namun demokratis telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola hidupnya sejak kecil, karena ayahnya adalah seorang perwira angkatan darat.
Sebgai putera seorang tentara, dia bahkan pernah diamanahkan menjadi komandan resimen mahasiswa (menwa) Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani, Bandung. “Disini kepanduan namanya, disiplin tidak selalu berbentuk militerisasi, kami disini menegakkan disiplin tanpa kekerasan dan kekasaran, tidak ada kekuatan tanpa disipin” ujar Aa seperti dikutip harian Kompas (22/06/2000). Dan ternyata kekuatan yang semacam inilah yang justru membuat dirinya dan dua orang adiknya memiliki rasa percaya diri, mampu hidup prihatin, pantang menyerah, da kental dengan rasa kesetiakawanan.
Dimata Aa Gym sosok sang adik (Agung Gunmartin) ternyata sangat berpengaruh. “Saya dapat pelajaran membuka mata hati saya dari adik laki-laki saya yang lumpuh seluruh tubuhnya dalam menghadapi maut” seperti yang dikutip harian Republika (07/05/2000). Dia tidak bisa melupakan saat-saat bersama adiknya yang mengalami kelumpuhan total. “Kalau kuliah saya menggendongnya” ungkapnya mengenang. Pernah suatu ketika Aa Gym menanyakan kepada sang adik “mengapa sudah tidak berdaya masih terus kuliah?” adiknya menjawab “kalau orang lain ibadahnya dengan berjuang, mudah-mudahan keinginan saya untuk terus kuliah bernilai ibadah”. Pelajaran lain yang diperoleh dari sang adik adalah dia tidak pernah mengeluh. Aa Gym masih ingat sewaktu adiknya berkata “Kalau orang lain punya bekal untuk pulang dengan berbuat sesuatu, saya ingin mengumpulkan bekal pulang dengan bersabar”.
Aa Gym mengaku bahwa guru pertamanya adalah adiknya sendiri yang biasa dipanggil A Agung. “Saya bersyukur memperoleh guru yang sosoknya seperti adik saya, guru saya adalah seorang yang lemah fisiknya. Saya diajari bahwa saya haru menghargai dan memperhatikan orang-orang yang lemah disekeliling saya”. Adik Aa Gym yang meninggal dipangkuannya inilah yang membuat perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam diri Aa Gym selanjutnya.
Pada masa mudanya, selain menuntut ilmu dan aktif berorganisasi, Aa Gym juga memiliki kegemaran berdagang. Dialah yang memelopori pembuatan stiker-stiker barsablon yang menunjukkan kekuatan dan keindahan Islam, dia juga pernah berjualan minyak wangi. Seraya tertawa dia bercerita, pernah seharian suntuk ia membersihkan botol-botol minyak gosok PPO untuk diisi minyak wangi hasil racikannya. Seluruh hasil kerja Aa Gym akhirnya membuahkan hasil, dia kemudian dapat membeli 1 unit mobil angkutan kota (angkot) dan kadang-kadang dia yang menjadi supirnya. Jika ada acara wisuda, dia menjual baterai dan film, selain itu juga kadang-kadang dia mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya. “Sebenarnya tujuan saya mengamen ini bukan untuk mencari uang, melainkan ingin berlatih dalam berhadapan dengan orang lain, tapi ya lumayan juga dapat uang” ujarnya.
B. Aa Gym Sebagai Kepala Keluarga
Abdullah Gymnastiar memang lebih populer dipanggil Aa Gym, karena sebagian besar jama’ahnya adalah para pemuda, Aa dalam bahasa sunda berarti kakak. Dari pernikahannya dengan Ninih Muthmainnah Muhsin (cucu dari KH. Moh Tasdiqin –pengasuh pondok pesantren Kalangsari, Cijulang, Ciamis Selatan-) Allah mengaruniakan enam orang anak yakni; Ghaida Tsuraya, Muhammad Ghazi Al-Ghifari, Ghina Raudhatul Jannah, Ghaitsa Zahira Shofa, Ghefira Nur Fathimah dan Ghaza Muhammad Al-Ghazali. Anak-anaknya tersebut dididik dengan penuh disiplin dan religius, tetapi tetap dalam suasana demokratis.
Dalam lingkungan keluarganya, Aa Gym tampaknya berusaha menciptakan suasana yang enak dan egaliter agar istri dan anak-anaknya dapat mengoreksi dirinya secara terbuka dan ikhlas. Seperti yang dituturkan oleh Aa Gym sendiri bahwa seminggu sekali biasanya dia mengumpulkan seluruh anggota keluarganya dan meminta mereka supaya menilai dirinya.
Rupanya bagi Aa Gym sendiri, kebiasaan positif semacam ini harus dipupuk agar dapat membuat dirinya tidak anti kritik. “Saya mencoba membuat diri saya terbuka dan dapat disoroti dari sudut manapun, dan saya juga membutuhkan kritik untuk memperbaiki diri saya” ungkapnya dalam salah satu wawancara.
Aa Gym kemudian berusaha melebarkan proses penilaian diri kepada kalangan santri, orang-orang yang ada di sekelilingnya dan para tetangga yang sehari-hari amat dekat dengannya. Mereka diminta agar terus-menerus mengoreksi dirinya agar supaya tetap berada di jalur yang benar dengan cara apapun. Aa Gym yakin bahwa semakin dirinya dapat dibuat terbuka dan dapat menerima kritikan orang lain tanpa kedongkolan atau kejengkelan, maka kemampuan dirinya akan semakin membaik dari hari ke hari.
Inilah barangkali akar-akar kultural yang memberikan pengaruh fundamental yang cukup signifikan dalam diri Aa Gym, sehingga ia bisa tampil menjadi sosok Kiai masa depan ummat yang bersifat terbuka dan moderat seperti sekarang ini.
C. Pendidikan Aa Gym
Latar belakang pendidikan formal Aa Gym, apalagi bila dikaitkan dengan posisi dirinya sekarang ini tampak cukup unik. Diawali dari SD (Sekolah Dasar) Sukarasa III Bandung, SMP (Sekolah Menengah Pertama) 12 Bandung, SMA (Sekolah Menegah Atas) 5 Bandung, kemudian dilanjutkan dengan kuliah selama satu tahun di Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Unpad, terakhir di Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani (kini Universitas Ahmad Yani -Unjani-) hingga sarjana muda, waktu itu Aa Gym meraih gelar Bachelor of Electrical Engineering. Sebenarnya Aa Gym ingin meneruskan kuliahnya hingga S1, namun waktu itu ia sudah jarang kuliah dan dia tidak enak karena tidak mengikuti prosedur yang semestinya.
Dari prestasi akademik beliau juga masuk peringkat yng lumayan, misalnya waktu SD ia menjadi siswa berprestasi kedua dengan selisih hanya satu angka dari sang juara. Dan sewaktu kuliah pun nilai-nilai akademik Aa Gym tetap terjaga dengan baik sehingga beliau sempat terpilih untuk mewakili kampusnya dalam pemilihan mahasiswa teladan. Dengan kata lain, banyak prestasi yang diperoleh pada waktu remaja dan beranjak sebagai pemuda. Di rumah Aa Gym berjejer rapi piala dan penghargaan lain akibat prestasi Aa Gym tersebut.
Pada tahun 1990, Aa Gym telah diberi amanah oleh jama’ahnya untuk menjadi ketua Yayasan Darut Tauhid, Bandung. Dari sini terlihat bahwa secara formal Aa Gym sebenarnya tidak dibesarkan atau dididik di lingkungan pesantren yang ketat ( terutama pesantren dalam pengertian tradisional). Dalam kaitan ini Aa Gym mengakui ada hal-hal yag tidak biasa dalam perjalanan hidupnya. “Secara syari’at memang sulit diukur bagaimana saya bisa menjadi Aa yang seperti sekarang ini” ujarnya. “Akan tetapi, lanjutnya, saya merasakan sendiri bagaimana Allah seolah-olah telah mempersiapkan diri saya untuk menjadi pejuang di jalan-Nya”. Dengan hati-hati dan tawadhu ia menuturkan pencarian jati dirinya yang diwarnai beberapa peristiwa aneh yang mungkin hanya bisa disimak lewat pendekatan imani.
D. Peristiwa Yang Merubah Jalan Hidup Aa Gym
Bermula dari sebuah pengalaman langka, nyaris sekeluarga (Ibu, Adik dan Dirinya sendiri) pada suatu ketika dalam tidur mereka secara bergiliran bertemu dengan Rasulullah SAW……Sang Ibu bermimpi mendapati Rasulullah sedang mencari-cari seseorang………Pada malam yang lain giliran salah seorang adiknya bermimpi Rasulullah mendatangi rumah mereka. Ketika itu Ayahnya langsung menyuruh Gymnastiar, “Gym, ayolah temani Rasul”. Ketika ditemui ternyata Rasul menyuruh Gymnastiar untuk menyeru orang-orang agar mendirikan shalat. Beberapa malam setelah itu, Aa memimpikan hal yang sama. dalam mimpinya, dia sempat ikut shalat berjama’ah dengan Rasulullah dan keempat sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) pada saat itu Aa Gym berdiri disamping Ali, sementara Rasulullah bertindak sebagai imam. Namun sebelum mimpi ini, terlebih dahulu ia bermimpi didatangi oleh seorang tua yang berjubah putih bersih dan kemudian mencuci mukanya dengan ekor bulu merak yang disaputi madu. Setelah itu, orang tua tersebut berkata, “Insya Allah kelak ia akan menjadi orang yang mulia”. Aa Gym mengaku sulit melupakan mimpi yang ini.
Setelah peristiwa mimpi itu, Aa Gym merasa mengalami guncangan batin, rasa takutnya akan perbuatan dosa membuat dia berperilaku aneh dimata orang lain, misalnya sering Aa Gym menangis ketika ada orang yang menyebut nama Allah, atau hatinya jengkel bila pagi tiba karena sedang asyik bertahajjud. Melihat tingkah lakunya ini, orang tuanya bahkan sempat menyarankan dirinya agar mengunjungi psikiater.
Salah satu pengalaman menarik yang diungkapkannya belakangan ini berkaitan dengan masa-masa menjalani pengalaman spiritual dulu adalah tentang kata “Allah” yang senantiasa tidak pernah lepas dari bibirnya. Kata Aa Gym pula, sang istri dulu tertarik pada dirinya lantaran dia sering mengucapkan “Bismillah” dan “Alhamdulillah”. Dengan kata lain, pada masa-masa itu Aa Gym telah mengalami mabuk kepayang kepada Allah SWT.
Menurut Aa Gym setelah melalui proses pencarian itu, dia bertemu dengan empat orang ulama yang sangat memahami keadaannya. Seorang ulma sepuh yang pertama kali ditemuinya itu mengatakan bahwa dia telah dikaruniai tanazzul oleh Allah, yakni proses secara langsung dibukakan hatinya untuk mengenal-Nya tanpa proses riyadhoh. Sementara KH. Khoer Affandi, seorang ulama tasawwuf terkenal dan juga pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, yang ditemuinya berdasarkan saran ulama sepuh yang pertama kali ditemuinya tersebut mengatakan bahwa dirinya telah dikaruniai ma’rifatullah. Dua ulama lain juga mengatakan hal yang serupa dengan ulama tasawwuf diatas, keduanya adalah Ayah dan Kakek seorang wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Keempat ulama ini bagi Aa Gym, jasanya jelas tidak dapat dilupakan karena telah memberi les kepadanya tanpa harus nyantri bertahun-tahun lamanya.
“Mungkin berkat ilmu tersebut, lidah dan pikiran saya dimudahkan oleh-Nya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat” ujarnya. Memang diakui oleh Aa Gym sendiri, hampir setiap hari dia dapat mengajar sekaligus belajar kepada banyak orang. Dia lebih sering menimba ilmu dari lingkungan sekitarnya, terutama kepada orang-orang yang dijumpainya. Dengan cara seperti itulah materi-materi yang disampaikan oleh Aa Gym bisa sesuai dengan kehidupan dan perkembangan masyarakat pada saat itu.
E. Karya-karya Aa Gym
Diantara tulisan lepas beliau adalah : Getaran Allah di Padang Arafah, Indahnya Hidup Bersama Rasulullah, Nilai hakiki Do’a, Seni Menata Hati Dalam Bergaul, Membangun Kredibilitas : Kiat Praktis, Menjadi Orang Terpercaya, Seni Mengkritik dan Menerima Kritik, Mengatasi Minder, Ma’rifatullah, Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup, Bersikap Ramah Itu Indah dan Mulia, Menuju Keluarga Sakinah, dll.
Konsep Pendidikan Abdullah Ahmad
Riwayat hidup Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878. Ayahnya bernama H.Ahmad, seorang ulama Minangkabau dan juga sebagai saudagar kain bugis.
Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878. Ayahnya bernama H.Ahmad, seorang ulama Minangkabau dan juga sebagai saudagar kain bugis.
Pendidikan Abdullah dimulai dengan mempelajari agama Islam kepada orang tuanya dan beberapa orang guru yang ada di daerahnya. Setelah baligh, ia dimasukkan ke sekolah kelas 2 (sekolah yang diperuntukkan bagi kaum pribumi) di Padang Panjang.
Pada usia 17 tahun (1895), ia berangkat untuk ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji lalu melanjutkan pelajaran agama pada Syaikh Ahmad Khatib, seorang ulama Minangkabau yang bermukim di Makkah. Selama empat tahun belajar di Makkah, Abdullah Ahmad terus mengikuti perkembangan gerakan Wahabiyah yang di gencarkan pada waktu itu. Gerakan ini dilakukan untuk menghapus praktek bid’ah, khurafat dan tahkayul juga masalah taqlid.
Pada tahun 1899 Abdullah Ahmad kembali ke Minangkabau dan mulai mengajar di Surau Jembatan Besi Padang Panjang. Didaerahnya ini ia menggunakan cara mengajar tradisional, yaitu dengan sistim halaqoh.
Pada tahap selanjutnya Abdullah Ahmad mengubah sistim pengajaran tradisionalnya dengan sistim sekolah agama (madrasah) yang diberi nama Adabiyah School. Proses belajar mengajar dengan menggunakan sistim klasikal ini menggunakan sarana yang biasa terdapat pada sekolah yang dilaksanakan pemerintahan Belanda, seperti meja, bangku dan papan tulis. Keadaan ini mendapat tantangan keras dari kalangan ulama tradisional, karena dianggap meniru cara-cara yang digunakan orang kafir. Karena tantangan ini begitu kuat, maka Abdullah memutuskan untuk pindah ke Padang pada tahun 1906 dan disana ia menjadi guru di Masjid Raya Ganting, menggantikan pamannya Syaikh Abdul Halim yang meninggal dunia.
Konsep Pendidikan Abdullah Ahmad
Konsep atau ide-ide yang dikemukakan Abdullah Ahmad paling kurang meliputi tiga aspek yang fundamental, yaitu aspek kelembagaan, aspek metode, dan aspek kurikulum. Ketiga aspek ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Aspek kelembagaan
Salah satu ide pembaharuan pendidikan yang dibawa oleh Abdullah Ahmad adalah bidang kelembagaan atau institusi pendidikan. Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa Abdullah mendirikan Sekolah Adabiyah. Untuk mendirikan sekolah ini ia menghubungi beberapa orang yang memiliki pendidikan guru dan juga menghubungi dari kalangan ulama.
Konsep atau ide-ide yang dikemukakan Abdullah Ahmad paling kurang meliputi tiga aspek yang fundamental, yaitu aspek kelembagaan, aspek metode, dan aspek kurikulum. Ketiga aspek ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Aspek kelembagaan
Salah satu ide pembaharuan pendidikan yang dibawa oleh Abdullah Ahmad adalah bidang kelembagaan atau institusi pendidikan. Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa Abdullah mendirikan Sekolah Adabiyah. Untuk mendirikan sekolah ini ia menghubungi beberapa orang yang memiliki pendidikan guru dan juga menghubungi dari kalangan ulama.
Untuk mendukung kegiatan lembaga ini, Abdullah merekrut para pegawai yang berjiwa kebangsaan, yaitu mereka yang memiliki legalitas terhadap pemerintah Belanda dengan tujuan untuk menghilangkan kecurigaan pemerintah Belanda.
Pada tahun 1915 corak pendidikan Adabiyah diubah menjadi Holands Maleische School (HMS) atau Hollands Inlandsch School (HIS), yaitu tingkat pendidikan setaraf dengan Sekolah Dasar (SD) seperti yang ada sekarang. Di Adabiyah School diajarkan pelajaran agama dan Al-Qur’an sebagai mata pelajaran wajib, juga diajarkan pengetahuan umum.
Dengan adanya perubahan tersebut, Adabiyah School mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial, yaitu berupa dana dan tenaga guru.
Pada perkembangan selanjutnya, jenjang pendidikan sekolah ini bertambah dengan berdirinya Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, dan SMA bahkan ada pula Sekolah Tinggi Administrasi Islam (STAI) serta laboratorium komputer.
Kemodernan Lembaga pendidikan Adabiyah ditandai oleh adanya sikap keterbukaan kepada para siswa yang berasal dari berbagai golongan untuk belajar di Adabiyah ini tapi dengan syarat beragama Islam dan dipilihnya guru-guru yang berbobot, setara dengan guru yang mengajar di sekolah Belanda.
2. Aspek Metode Pengajaran
Metode debating club adalah metode yang diterapkan oleh Abdullah Ahmad atau yang dikenal dengan nama metode diskusi merupakan metode yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka tentang berbagai hal. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengubah cara lama yang menempatkan para siswa secara pasif dan kurang diberikan kebebasan, sementara waktu dipergunakan lebih banyak oleh guru.
Selain itu, Abdullah Ahmad mengajukan metode pemberian hadiah dan hukuman sebagaimana yang berkembang saat ini. Menurutnya, bahwa pujian perlu diberikan guru bila anak didiknya memiliki akhlak yang mulia dan jika perlu diberikan hadiah. Bersamaan dengan itu, hukuman juga perlu diberikan jika anak didik bersikap sebaliknya. Namun hukuman ini tidak perlu diberikan secara kasar, karena hukuman semacam ini dapat menghilangkan keberanian yang ada pada diri anak.
Metode lainnya yang perlu diterapkan menurut Abdullah adalah metode bermain dan rekreasi. Menurutnya bahwa anak-anak perlu diberi waktu untuk bermain dan bersenang-senang serta beristirahat dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Karena jika tidak ada waktu beristirahat, dapat merusak prilaku anak yang semula baik, karena bosan dengan kegiatan yang banyak menguras daya pikirnya. Akibat lainnya, hatinya akan mati, pemahamannya terhadap bahan pelajaran yang diberikan akan tumpul serta cahaya akalnya akan padam.
3. Aspek Kurikulum
Rencana pelajaran yang dalam bahasa sekarang disebut kurikulum dijadikan sebagai kerangka kerja sistematis dalam suatu kegiatan pengajaran modern.
Pada lembaga pendidikan tradisional kurikulum tidak disusun secara tersendiri, melainkan dengan cara mengajarkan kitab-kitab yang diajarkan oleh kyai kepada para santrinya.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumya, bahwa sekolah Adabiyah bercorak agama dengan sistim modern. Dari kurikulum yang diterapkan oleh Abdullah adalah konsep kurikulum pendidikan Integrated (Integrated Curriculum of Education), yaitu terpadunya antara pengetahuan umum dengan pengetahuan agama serta bahasa dalam program pendidikan.
Langganan:
Postingan (Atom)

